“Kisah Keteladanan Nabi Ibrahim AS”

“Mengemban Amanah di Hamparan Cinta”

“ Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya” (QS An-Nisa’: 125)

Tidak ada seorang nabi yang namanya disebut berdampingan dengan sebaik-baiknya makhluk, Nabi Muhammad SAW, kecuali Nabi Ibrahim AS, sebagaimana diucapkan dalam Shalawat Tasyahud akhir dalam shalat. Begitu pula tidak ada nabi yang maqamnya bersanding dengan rumah nan paling suci yang pernah diciptakan Allah SWT melainkan Nabi Ibrahin AS. Allah SWT mengangkat Nabi Ibrahim dengan suatu kedudukan yang mulia ndan sangat tinggi sebagai kekasih-Nya. Suatu kedudukan yang menjadi puncak harapan para salik, pejalan ruhani, dengan tujuan akhir mendapatkan cinta Allah SWT. Bukankah setiap manusia membayangkan dan mengangan-ngangankan untuk mendapat cinta dari Allah SWT ? Demikian harapan tertinggi setiap manusia yang diciptakan dengan kefitrahan.

Dalam satu versi disebutkan, nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS. Sementara ibunya bernama Buna binti Kartiba bin Kartsi, seorang wanita dari Kabilah Bani Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS. Ibrahim lahir di Kaldaniyyah (Babilonia). Ketika dilahirkan, ayahnya berusia 70 tahun. Mayoritas ahli nasab. Termasuk Ibn Abbas, menyatakan nama ayah Ibrahim Tarikh. Sedangkan kalangan Ahlul Kitab mengatakan, nama bapaknya Azar. Menurut Ibn Jarir , yang benar adalah Azar, Mungkin saja ia memiliki dua nama atau gelar, yakni Azar dan Tarikh, seperti kebiasaan bangsa arab di masa lampau. Para ulama lainnya mengatakan, dalam Al-Quran “paman”terkadang disebut “ayah”. Dan Azar adalah paman bagi Ibrahim. Nabi Ibrahim adalah seorang hamba Allah SWT yang diangkat-Nya menjadi Al-Khalil, Kekasih Allah. Adalah hal yang sangat mengagumkan bahwa, setiap kali Nabi Ibrahim mendapatkan ujian hidup, ia justru menjadikan permata. Adahal yang sangat menakjubkan bahwa hatinya yang suci itu menjadi matang sejak usia dini.

Perhatikan dialog Ibrahim yang penuh kepolosan kepada ayahnya atau yang dikatakan sebagai ayahnya. Ibrahim berkata : “Patung apakah itu, wahai ayahku ? kedua telinganya lebih besar dari telinga kita.” Ayahnya menjawab, “Itu adalah Mardukh, tuhan para tuhan, wahai anakku. Kedua telinganya yang besar itu sebagai symbol dari kecerdasan yang luar biasa.” Ibrahim menampakan barisan giginya penuh senyum. Benaknya mengatakan, ada hal yang lucu dan aneh dari penjelasan dari sang ayah tetang sosok patung di hadapannya. Allah Ta’ala menganugrahkan daya nalar yang kuat, padahal saat itu ia baru mengijak usia tujuh tahun. Kesucian hati dan keluguan seorang anak kecil yang bernama Ibrahim ini terkandung dalam Al-Quran. Ibrahim berkata : “ Wahai ayahku mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun ? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan.” (QS Maryam: 42-45).

Sang ayah segera bangkit, tak kuasa lagi menahan amarahnya kepada Ibrahim. “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim ? jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan aku rajam. Dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.”(QS Maryam:46).

Akhirnya, pertentangan itu berakibat pengusiran terhadap Nabi Ibrahim dari rumahnya ketika ia mulai beranjak dewasa, dan ia pun terancam pembunuhan dan perajaman. Meskipun demikian, sikap Nabi Ibrahim tidak pernah berubah, ia tetap menjadi anak yang baik dan nabi yang mulia. Ia berdialog pada ayahnya dengan menggunakan adab para nabi dan etika para nabi. Ketika mendengar penghinaan, pengusiran dan ancaman pembunuhan dari ayahnya, ia berkata dengan lembut. “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadamu. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”(QS Maryam:47-48).

Selanjutnya Nabi Ibrahim tetap berdakwah dijalan Allah SWT, ia mencurahkan tenaga dan upayanya untuk menbimbing kaumnya. Nabi Ibrahim berusaha menyadarkan mereka dengan berbagai cara. Meskipun ia sangat cinta dan menyanyanginya meraka, mereka malah merah dan mengusirnya. Dan tiada yang beriman bersamanya kecuali seorang wanita dan seorang pria. Wanita itu bernama Sarah, yang kemudian menjadi istrinya, sedangkan yang pria adalah Luth, yang kemudian juga menjadi Nabi. “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah. Ibrahim melepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah serorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”(QS At-Tawbah:114).

“ Istri untuk Suamiku……….” 

Nabi Ibrahim keluar meninggalkan negerinya dan mulai petualangannya dalam hijrah. Nabi Ibrahim pergi ke kota yang bernama Aur dan ke kota yang lain bernama Haran, kemudian ia pergi ke Palestina bersama istrinya. Satu-satunya wanita yang beriman kepadanya, ia juga disertai Luth, satu-satunya pria yang beriman kepadanya. Allah SWT berfirman, “Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim, “ Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku(kepadaku), sesungguhnya Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’(QS Al-Ankabut:26). Setelah ke Palestina, Nabi Ibrahim pergi ke Mesir. Selama perjalanan ini Nabi Ibrahim mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT, ia berjuang dengan gigih, ia mengabdi dan membantu orang-orang yang tidak mampu dan orang-orang yang lemah. Ia menegakkan keadilan ditengah-tengah manusia dan menunjukan kepada mereka jalan yang benar.

Istri Nabi Ibrahim, Sarah, tidak melahirkan ia dengan realistis melihat bahwa ia dan suaminya tidak akan mempunyai anak. Ia berpikir bagaimana seandainya wanita muda, pembantu yang ia terima dari raja Mesir, menjadi istri kedua suaminya. Sarah mengajukan wanita Mesir yang bernama Hajar itu kepada suaminya untuk menjadi ibu anak-anak Nabi Ibrahim. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim AS,” Sesungguhnya Tuhan telah meniadakan anak dariku untukmu, maka menikahlah dengan Hajar, mudah-mudahan mel;alui perantara dia Allah mengaruniakan anak untuk kita.” Akhirnya Nabi Ibrahim menikahi Hajar. Dari pernikahan itu Hajar melahirkan anak yang pertama yang dinamai Ismail. Para ahli sejarah mengemukakan, sebagaimana diriwayatkan Ibn Katsir, Hajar melahirkan Ismail ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun, tiga tahun sebelum melahirkan Ishaq dari rahim Sarah.

Kisah keluarga Ibrahim ini menunjukan tingka cinta yang begitu tinggi yang dicapai seorang musafir dijalan Allah SWT. Dalam diri seorang pecinta akan selalu timbul hasrat, rasa tunduk dan rasa ingin menambah cintanya. Demikian cintanya Nabi Ibrahim, yang setiap kali melalui perjalanan cintanya kepada Allah Ta’ala pun meningkat. Cinta seorang istri bernama Sarah, yang rela berbagi kasih. Dan cinta seorang Hajar, yang menjadi istri kedua seorang lelaki tua. Inilah petualangan Nabi Ibrahim. “ Sesungguhnya cinta yang sejati adalah cinta segitiga, cinta yang melibatlkan engkau dan pasanganmu dengan Tuhan.” Demikian seorang sufi berkata. Beserta istri dan anaknya yang masih bayi, Nabi Ibrahim melakukan perjalanan panjang dari Mesir menuju suatu lembah yang belum dikenalnya. Ketiganya melewati hamparan gurun dan gunung selama berhari-hari. Sesampai dilembah itu. Nabi Ibrahim meninggalkan dua manusia yang amat dicintainya disan. Mereka hanya dibekali makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Hajar memahami bahwa suaminya tidak bersikap seperti demikian kecuali mendapat perintah dari Allah SWT. Kemudian ia bertanya:”Apakah Allah SWT memerintahkan yang demikian itu ?” Nabi Ibrahim menjawab: “Benar”. Istri yang beriman itu berkata: “Kalau begitu kami tidak akan disia-siakan.” Nabi Ibrahim menuju sebuah bukit, lalu mengangkat kedua tangannya,”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku dilembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.”(QS Ibrahim:37). Ismail ditinggalkan bersama ibunya ditempat ini, Ismail-lah kelak yang akan bertanggung jawab bersama ayahnya dalam pembangunan Ka’bah dan meletakan jejak ritus haji. Hikmah lain dengan didirikannya suatu bangunan di lembah itu, menjadikan seluruh umat Nabi Muhammad SAW menghadapkan diri dan wajahnya menuju Baitullah saat shalat.

“ Ujian Berat….”

Ketika Ismail menjelang remaja, Nabi Ibrahim kembali, Nabi Ibrahim menaruh kasih sayang dan perhatian yang amat besar padanya. Lalu Allah SWT mengujinya, Allah SWT mengisahkan ujian tersebut dalam firman-Nya.” Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku, Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata,”Hai anakku, sesungguhnya aku me;lihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu !’ Ia menjawab,” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah, Ayah akan mendapatku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia.” Hai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembilahan yang besar.” Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan oran-orang yang datang kemudian (yaitu): kesejahteraan dilimp[ahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”(QS Ash-Shaffat:99-111).

Perhatikan, bagaimana Allah SWT  menguji hamba-hamba-Nya. Renungkanlah bentuk ujian tersebut. Ibrahim seorang nabi yang hatinya adalah hati yang paling lembut dan paling penyayang dimuka bumi. Hatinya penuh dengan cinta kepada Allah SWT dan cinta pada makhluk-Nya. Nabi Ibrahim mendapatkan anak saat ia menginjak usia senja, padahal sebelumnya ia tidak membayangkan akan memperoleh karunia seorang anak. Nabi Ibrahim diuji dengan ujian yang sangat berat. Ujian yang langsung dengan emosi kebapakan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pecinta sejati, Nabi Ibrahim tidak merasakan kegelisahan dari mimpi tersebut. Ia tidak “menggugat” perintah Allah SWT itu. Nabi Ibrahim adalah penghulu para pecinta. Nabi Ibrahim berpikir tentang apa yang harus dikatakan kepada anaknya ketika ia menidurkannya diatas tanah untuk kemudian menyembelihnya. Lebih baik baginya untuk memberitahukan anaknya dan itu lebih menenangkan hati daripada memaksakan untuk menyembelih.

Perhatikan bagaimana kasih sayang Nabi Ibrahim dalam menyampaikan perintah kepada anaknya. Ia menyerahkan urusan itu kepada anaknya, apakah anaknya akan menaati perintah tersebut. Bukankah perintah tersebut adalah perintah dari Tuhannya ? Isamail menjawab sama dengan jawaban dari ayahnya itu bahwa perintah itu dating dari Allah SWT, yang karenanya si ayah harus segera melaksanakannya.. Perhatikan jawaban si anak. Ia mengetahui bahwa ia akan disembelih sebagai ketundukan dan menjaga amanah Tuhan, namun ia justru menenangkan hati ayahnya bahwa dirinya akan bersabar. Itulah puncak kesabaran. Nabi Ibrahim merasa tenang ketika mendapati anaknya ‘menantangnya’ untuk menunjukan kecintaannya kepada Allah SWT. Selepas peristiwa yang begitu dahsyat itu, Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di lembah Makkah. Ia kembali berhijrah ke tanah Kaidanin, tempat kelahirannya di Irak, melalui Yordania, dan tinggal di negeri Kan’an.

“Kabar Gembira…..”

Nabi Ibrahim duduk diluar kemahnya memikirkan anaknya Ismail dan kisah mimpinya serta tentang tebusan dari Allah SWT berupa qurban yang besar. Hatinya penuh dengan gelora cinta. Ia tidak mampu menghitung pujian yang harus ditujukan kepada Tuhan. Matanya berlinang air mata, sebagai bukti rasa terima kasih dan syukurnya kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim mengingat Isamil dan mulai rindu kepadanya yang nun jauh disana. Dalam situasi seperti itu, turunlah Malaikat Jibril, Israfil dan Mikail ke bumi. Mereka berubah wujud menjadi manusia yang tampan. Mereka memeggang misi dan tugas khusus. Mereka berjalan di depan Nabi Ibrahim dan menyampaikan berita gembira kepadanya, kemudian mereka mengunjungi kaum Nabi Luth dan memberikan hukuman atas kejahatan kaumnya. Melihat wajah-wajah yang bersinar itu, Nabi Ibrahim tercengang dan mengangkat kepalanya. Ia tidak mengenali mereka. Mereka mengawali mengucapkan salam dan Nabi Ibrahim membalas salam mereka. Nabi Ibrahim bangkit dari tempatnya dan menyambut mereka, ia mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya dan mempersilahkan duduk. Lalu ia meminta izin pada mereka untuk keluar dan menemui istrinya. Sarah istrinya, bangun ketika Nabi Ibrahim masuk menemuinya. Saat itu Sarah sudah mulai tua dan rambutnya mulai memutih. Menyambut kedatangan ketiga tamu itu, Ibrahim dan istrinya, menyembelih seekor kambing yang besar. Kemudian disiapkanlah makanan. Setelah siap Nabi Ibrahim mempesilahkan tamu-tamunya untuk makan. Istrinya membantu melayani mereka dengan penuh hormat. Nabi Ibrahim mulai mengawali makan agar para tamunya juga turut makan. Namun mereka tidak ingin menikamati suguhan itu. Salah seorang Malaikat memberi kabar gembira tentang kelahiran Ishaq dari rahim Sarah. Dengan penuh keheranan Sarah berkata :’ Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan seorang anak padahal aku seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sangat tua pula.?”(QS Hud:72). Belum terucap sebuah jawaban, salah seorang Malaikat kembali berkata kepadanya.”Dan sesudah Ishaq (lahir pula) Yaqub.”(QS Hud:71).

Bergeloklah berbagai perasaan dalam hati Nabi Ibrahim dan istrinya,. Ditengah-tangah berita yang cukup mengguncangkan tersebut, Nabi Ibrahim bertanya :”Apakah engkau memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terwujudnya) berita gembira yang engkau kabarkan ini?’(QS Al-Hajr:54). Para Malaikat menjawab.”Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar. Maka jangan kamu termasuk orang-orang yang berputus asa (QS Al-Hajr:55). Sarah pun turut bergabung dalam pembicaraan dengan mereka. Ia bertanya dengan penuh keheranan,”Apakah aku akan melahirkan, sementara aku adalah perempuan yang sudah tua?. Sungguh hal ini sangat mengherankan.’ Para Malaikat menjawab : “ Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bayt ! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”(QS Hud:73).

Berita gembira itu bukan sesuta yang sederhana dalam kehidupan Nabi Ibrahim dan istrinya. Nabi Ibrahim tidak mempunyai anak kecuali Ismail, yang ia tinggalkan di tempat yang jauh, di Jazirah Arab. Istrinya Sarah, selama puluhan tahun bersamanya dan tidak memberinya anak, bahkan Sarah sendiri yang menikahkan Nabi Ibrahim dengan pembantunya,Hajar. Sarah telah bersabar cukup lama hingga ia memasuki usia senja dan lupa akan kerinduannya dengan kehadiran anak. Lalu datanglah balasan Allah SWT dengan tiba-tiba yang menghapus semua ini. Hati kedunya dipenuhi dengan kasih sayang dan kedekatan. Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ia berasa di hadapan suatu nikmat yang luar biasa, maka ia segera bersujud. Sujud seorang nabi yang telah diuji dengan berbagai ujin. Sujud seorang hamba yang tulus mengemban amanah. Sujud seorang pembangun monumen sujud diatas hamparan Lembah Makkah. Sujud seorang pemuka pecinta Tuhan, yang Tuhan pun mencintainya dengan berbagai ungkapan cinta. Allah Ta’ala menguji cinta seorang hamba-Nya dan menggantikan kesabaran dan ketulusan menjalani amanah atas ujian tersebut dengan pujian yang abadi dari-Nya,” Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan Hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (QS An-Nahl:120). Al-Kisah.

About RUDHIDAYAT

Menjalani sebuah kehidupan bagaikan kemudi dalam genggaman, kapan kita akan merubah arah dan kapan kita akan merubah haluan. Semuanya dikembalikan pada kita, kemana kita akan membawanya..........!

Posted on Juni 8, 2012, in Al-Kisah, Kajian, Religi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan isi komentarnya, gratis koq !

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: