“Memilih digergaji daripada Korupsi”

” Demi Allah, jika badanku dibelah dengan gergaji, itu lebih aku sukai, daripada korupsi atau menyalahgunakan kekuasaan”

‘Iyadh bin Ghanim Al-Fihri dikenal sebagai pribadi yang santun dan pemurah. Dia berprinsip bahwa apa yang diberikan oleh Allah kepadanya, juga dengan mudah diberikannya keoada orang lain. Senua yang dia miliki bisa pindah tangan kepada sahabat, kenalan, atau tetangganya. Dan dia melakukan itu dengan tulus ikhlas. Sehingga Khalifah Umar bin khaththab pernah mengatakan, “Dia suka menghambur-hamburkan hartanya.” Namun Umar juga memujinya “Sungguh kedermawanan berada ditangan ‘Iyadh. Jika harta Allah datang, sedikit pun dia tidak berupaya mengambilnya.” Tapi itu semua dia lakukan sebatas pada harta pribadinya. Dia tidak berani menyentuh harta milik negara untuk kepentingannya, meski ia punya kesempatan untuk itu. Dia begitu bertanggung jawab terhadap tugasnya dan mempraktekkan transparansi dan manajemen terbuka.

“Serahkan kepada Iyadh!”

‘Iyadh bin Ghanim Al-Fihri adalah sahabat Nabi yang ikut dalam proses Perjanjian Hudaibiyah. Statusnya sebagai penduduk Hudaibiyah memberikan kesempatan untuk terlibat dalam proses perjanjian yang ditangani langsung oleh Rasulullah Shollallah Alaihi wa Sallam tersebut. Dan ia tergolong sahabat yang diridhoi Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Iyadh juga mengalami masa ke-Khalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar. Dimasa Abu Bakar, dia terlibat dalam penumpasan kaum Murtadin dan Nabi palsu Musallamah Al-Kadzdzab dalam Perang Yamamah. Waktu itu yang menjadi Panglima adalah Khalid bin Walid. Bahkan bersama Khalid, ‘Iyadh diperintah khalifah untuk mulai masuk menyerang Irak dari dua tempat. Khalid diperintah masuk ke Irak dari dataran rendah, sementara ‘Iyadh masuk dari dataran tinggi. Khalifah ingin melihat siapa yang sampai lebih dulu ke wilayah Irak. Yang paling cepat sampai kesasaran akan diangkat menjadi panglima utama dalam penyerangan itu. Sejarah mencatat, posisi itu akhirnya diraih oleh Khalid. Dalam peperangan tersebut, mereka berdua berhasil merebut benteng Daumatul Jandal, yang terletak diantara Damaskus (Syam) dan Madinah. Sukses menaklukan Daumatul Jandal, Khalid dan ‘Iyadh melanjutkan penyerbuannya ke kota Hirah, yang strategis. Khalid menempatkan ‘Iyadh di Hirah, sementara dia sendiri  melanjutkan perjuangan ke Al-Masikh. Setelah itu ‘Iyadh kembali ke Irak bersama pasukannya untuk turut serta dalam Perang Qadisiyyah dibawah komando Panglima Saad bin Abi Waqqash. Dia juga terlibat dalam penaklukan Madain ibukota Persia, dan Perang Jalula.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. ‘Iyadh juga aktif bertarung dalam perang menghadapi Pasukan Romawi di Himsh (Homsh), Syiria. “Jika terjadi perang, urusannya diserahkan kepada ‘Iyadh.” ditulis Umar dalam suratnya kepda Saad bin Abi Waqqash. Ketika itu Abu Ubaidah bin al-Jarrah di garis depan melihat jumlah tentara Romawi jauh lebih besar sehingga dia terkepung musuh. Maka dia minta bantuan kepada Khalifah di Madinah, yang dengan segera memerintahkan Saad agar hari itu juga berangkat ke Al-Jazirah, sementara rekan-rekannya lain menuju ke sasaran yang sudah diperintahkan. Suhall bin Abdullah ke Ar-Raqqah dan mengepungnya sehingga penduduk mengajaknya berdamai. Dua wilayah lainnya yang menjadi sasaran Abdullah bin Abdullah bin Itban juga mengajak berdamai. Kemudian, bersama Suhall bin Abdullah, ‘Iyadh menuju Harawan dan selanjutnya menaklukan seluruh Al-Jazirah tanpa perlawanan yang berarti, bahkan bisa disebut dengan damai. Setelah itu dia berhasil merebut jalan raya yang terletak antara Tarsus (Turki) dan wilayah Romawi, sehingga terbentanglah penaklukan oleh Islam di Armenia.

Pada suatu hari memerintah di Syam, datang kepadanya lima orang kerabatnya bersilaturrahmi, ‘Iyadh menyambut dengan suka hati dan menyediakan tempat serta menjamunya. Setelah beberapa hari, mereka ingin pulang dan minta bekal untuk pulang, ‘Iyadh memberinya masing-masing lima dinar. Bukannya berterima kasih, mereka malah marah dan menyatakan kekecewaannya, bahkan menolak pemberiannya itu. “Hai, anak-anak pamanku.” kata ‘Iyadh. “Sungguh aku sangat berterima kasih kalian telah datang kemari, tapi demi Allah aku tidak dapat menjamu kalian melainkan setelah aku menjual harta bendaku. Semoga kalian maklum.” Rupanya mereka memang berharap terlalu banyak dari ‘Iyadh. “Kamukan sudah menjadi pejabat atas setengah negeri Syam. Untuk sekedar memberi kami yang sudah bersusah payah kemari, masa kamu tidak mampu?” ujar salah seorang diantara mereka. “Jadi kalian hendak menyuruhku mencuri harta Allah ?!!! Demi Allah, jika diriku dibelah dengan gergaji, itu masih lebih aku sukai daripada harus melakukan korupsi atau menyalahgunakan jabatan.” Maka merekapun pulang dalam keadaan tidak puas. Iyadh bin Ghanim Al-Fihri wafat di Syam pada tahun 640 M. Saat itu ia tengah menjabat Gubernur atas pengangkatan Khalifah Umar bin Khaththab. Jasadnya dimakamkan di Himsh. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amalnya, Amin. Seandainya para pejabat di negeri yang kita cintai ini ber-Ahlaq seperti ‘Iyadh ???? Insya Allah ! negeri ini akan terasa benar-benar “Gemah Ripah Loh Jinawi, subur, makmur, aman dan sentosa. Aminnnnnnn.


About RUDHIDAYAT

Menjalani sebuah kehidupan bagaikan kemudi dalam genggaman, kapan kita akan merubah arah dan kapan kita akan merubah haluan. Semuanya dikembalikan pada kita, kemana kita akan membawanya..........!

Posted on Januari 14, 2012, in Kajian, Kemanusiaan, Motivasi, Religi, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ASSALAMUALAIKUM……..IZIN SHARE KE FB YA SALAM

Silahkan isi komentarnya, gratis koq !

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: