“Rasa aman yang melalaikan”

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Yunus : 7-8)

Kebanyakan manusia merasa ama apabila dalam hidupnya dia meraih kesuksesan. Arti sebuah kesuksesan dalam ukuran manusia adalah keberhasilan dalam meraih kekuasaan, ataupun harta kekayaan yang telah didapatkannya. Qorun adalah salahsatu contoh seorang yang dilalaikan oleh kehidupan Duniawi ketika dia sukses meraihnya. Menjadi kayaraya karena kerjasamanya dengan para penguasa pada jamannya dan melakukan pratek suap menyuap, Qorun lalaikan dan lupa bahwa harta kekayaan hanya titipan Yang Maha Kuasa, dan kekayaan merupakan amanah Allah SWT yang pasti akan diminta pertanggung-jawabannya diakhir kelak. Contoh lain adalah Fir’aun yang menyombongkan diri dengan segala kewenangan yang dimilikinya dipuncak kejayaannya sebagai penguasa Mesir, Fir’aun memperbudak rakyatnya, seperti itulah gambaran penguasa yang menolak ajaran Islam. Ketika hidayah Allah datang untuk membimbing hidupnya, dia menolak  dengan sombong serta memusuhi kebenaran.

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termausk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-qashas : 4) 

Manusia Ingat Ketika Menderita

Banyak manusia hanya ingat Allah Subhannahu wa Ta’ala manakala dia menderita. Ketika kemiskinan sedang diderita, dia rajin meminta kepada Allah seperti halnya meminta bantuan kepada manusia disana-sini untuk mencapai suatu tujuannya, namun ketika kekayaan melimpah atau kekuasaan dia memalingkan muka kepada orang-orang yang sudah membantunya. Secara umum, manusia dihiasi dengan sifat tidak tahu berterimakasih dan menetang Allah. Mereka merasa puas dengan dunia dan tidak merasa perlu dengan bimbingan Allah Azza wa Jalla yang menyelamatkan hidupnya di Dunia dan Akhirat. Padahal jauh hari Allah telah mengancam dalam Alqur-an,

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Yunus : 7-8)

Mereka juga lalai dari mengingat kematian dan lupa bahwa kesuksesan hidup yang diperolehnya merupakan pinjaman sementara yang setiap saat akan diminta kembali oleh Yang Maha Pencipta…..Tidak jarang kita dengar ada orang yang tadinya kayaraya dan berkuasa namum kemudian Allah mengubah keadaannya dengan tiba-tiba hanya dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sehingga dia tidak lagi bisa menikmati kekayaannya. Atau kemudian Allah menegurnya dengan berbagai persoalan-persoalan yang membelit hidupnya seperti istri yang tidak setia, anak yang durhaka dan sebagainya, bahkan turunnya bencana alam yang mengubah nasib manusia secara tiba-tiba, sesungguhnya itu merupakan peringatan Allah akan kelalaian manusia.

“Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur ? Atau, apakah penduduk itu merasa aman dari datangnya siksaan  Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain-main ? Maka, apakah mereka merasa aman dari makar Allah ? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (al-araf : 97-99)

Dalam ayat 97-99 surat Al-A’raf ini, Allah memberikan peringatan sekaligus ancaman bagi umat manusia dengan rasa tidak aman dari makar dan ujian Allah. Sebab, ujian dan makar Allah bisa datang dalam situasi yang tak terduga-duga, baik di waktu istirahat maupun semangat, saat taat maupun maksiat, serta di waktu siang maupun malam? Merasa aman dari makar Allah bisa menjadi awal datangnya bencana dan malapetaka.

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang ? Atau, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirim badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku ?” . (Almulk : 18-17)

Ketika seseorang sudah merasa dirinya berada dalam zona aman, kerap kali hal itu menjadi sebab utama penurunan tekad dan daya juang, penurunan kuantitas san kualitas ibadah, penurunan semangat berdakwah, serta penurunan sensitivitas untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang agama. Rasullullah Shollallahu Alaihi wa Sallam bersabda ;

“Dua nikmat yang di dalamnya banyak manusia tertipu : sehat dan waktu luang.” (HR. al-Tirmidzi)

Manusia merasa aman tatkala sehat, padahal setiap saat penyakit bisa datang. Virus kecil yang masuk kedalam tubuhnya  bisa mengubah kondisi kesehatannya dengan tiba-tiba. Padahal dia tidak berkuasa sedikitpun untuk menolak kedatangannya. Yang dimaksud tertipu adalah kesehatan itu pada saat  waktu luang tidak digunakan untuk beribadah dan beramal saleh. Waktu luangnya tidak dimanfaatkan untuk hal-hal berguna, malah bersantai-santai bermaksiat dan meniggalkan ketaatan kepada Allah. Berpesta-pora, berdansa-dansi merupakan gambaran orang-orang yang tertipu oleh kesehatan dan waktu luang.

Waspada Dalam Iman dan Taat

Selayaknya bagi seorang mukmin memiliki sifat hati-hati dan waspada dalam setiap kondisi dan situasi. Bahkan, ketika sedang dalam kesalihan dan ketaatan sekalipun. Inilah yang membedakan dirinya dengan yang lain. Al-Hasan al Bashri RA berkata, “Seorang mukmin melaksanakan ketaatan dalam kondisi takut dam cemas, sementara seorang fajir melakukan maksiat dalam kondisi merasa aman.”?? 

Seorang mukmin meskipun telah melakukan berbagai amal saleh dan ketaatan tetap tidak merasa puas dengan amalnya, tidak merasa aman, serta tidak merasa layak untuk serta-merta mendapatkan surga dengan berbagai kenikmatannya. Sebab, tidak ada jaminan amalnya diterima, tidak ada jaminan selamat dari godaan setan, tidak ada jaminan ia terlepas dari dosa dan salah, tidak ada jaminan khusnul khatimah, serta tidak ada jaminan pula  ia selamat dari siksa. Yang diharapkan hanya rahmat, ampunan dan pertolongan dari Allah Subhannahu wa Ta’ala disertai beramal sekuat tenaga.?? Itulah buah dan hasil dari sebuah proses tarbiyah dan pembinaan yang panjang dan terus-menerus.

“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera  didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa hari kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.”(Ash-Shura: 18)

Tarbiyah mendidik seorang Muslim untuk senantiasa berada diantara rasa khauf (takut) dan raja’ (harap). Di satu sisi ia merasa takut kepada makar dan siksaan Allah sehingga menjauhi maksiat dan dosa sekecil apapun adanya, namun di sisi lain ia juga sangat berharap kepada rahmat dan karuni-Nya yang luas sehingga tidak pernah putus asa untuk bertobat dan meminta ampunan.

  “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan menharapkan rahmat Tuhannya ? Katakanlah : ” Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” Sesungguhnya orang yang berakalah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)

Inilah kesimbangan yang akan menjadi kunci kesuksesan hidup dunia dan akhirat.?? Hal itu ditandai dengan sikap terus memperbaiki diri disertai kesiapan untuk menerima nasihat, masukan dan saran baik dari orang lain walaupun datangnya dari orang yang lebih kecil (rendah) dari kita. Adapun jika terus berkubang dalam kealpaan tanpa mau memperbaiki diri, atau senantiasa sibuk melakukan kritik dan kecaman  sehingga lupa pada aib dan cacat dirinya sendiri, berarti sedang menikmati zona aman yang melenakan.??????? Wallahu’alam……..


About RUDHIDAYAT

Menjalani sebuah kehidupan bagaikan kemudi dalam genggaman, kapan kita akan merubah arah dan kapan kita akan merubah haluan. Semuanya dikembalikan pada kita, kemana kita akan membawanya..........!

Posted on Januari 8, 2012, in Kajian, Motivasi, Religi, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan isi komentarnya, gratis koq !

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: