“Indonesia-ku Menangis”

Kulihat ibu pertiwi,

sedang bersusah hati,

air matanya berlinang,

mas intan yang terkenang,

hutan gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan,

kini ibu sedang lara, merintih dan berdo’a…………………

Masih ingat dengan syair lagu Ibu Pertiwi yang diciptakan oleh Ismail Marzuki ? dulu ketika kita masih kanak-kanak sering melantunkan lagu tersebut, akan tetapi makna dari syair itu belum kita pahami pada saat itu, namun pada jaman sekarang kita merasakan dan menjalani kehidupan ini sejak jaman Orde Baru hingga jaman Demokrasi saat ini, kita pahami dari arti syair tersebut. Begitu banyak kedukaan di bumi pertiwi yang kita cintai ini, yang mana telah kita saksikan dengan kasat mata begitu marak peristiwa-peristiwa dan tragedi-tragedi yang bertindak anarkis hinnga berujung dengan kekerasan, sampai kapankah kemelut di bumi pertiwi ini akan berakhir ? dan begitu rentannya ahlaq kita yang mudah terprovokasi oleh segelintir oknum-oknum yang mementingkan kekuasaan duniawi semata dan setelah mereka dapatkan apa yang menjadi impiannya, sungguh suatu yang hal mustahil bahwa mereka akan ingat dengan perjuangan kita dalam membela nama besarnya, tidakkah terpikir oleh kita, siapa kita dan siapa lawan kita hingga temanpun dijadikannya musuh dan memecahbelah satu kasatuan bangsa dan budaya kita. Ooo…ya ! BUDAYA ! saya teringat dengan kata budaya, budaya yang marak di negeri yang kita cintai ini adalah Budaya Korupsi, Budaya Kolusi dan Budaya Nepotisme atau KKN yang mana sudah kita ketahui pada jaman orde baru, tapi kini semangkin jelas praktek-praktek tersebut dibudidayakan oleh para oknum-oknum yang berkepentingan, tidak perlu saya ungkapkan satu persatu siapa mereka karena kita sudah mengetahui dari berbagai kasus-kasus di media masa, media elektronik dan media lainnya, sungguh mengenaskan moral bangsa yang begitu rapuh dalam menghadapi kemajuan jaman globalisasi seperti sekarang ini, banyak sekali kebokbrokan moral didalam tubuh kaum para intelektual, ironisnya mereka mayoritas yang mempunyai background akademis yang tinggi dan terhormat, tidakah mereka malu pada kaum marginal yang senantiasa hidup dalam serba kekurangan tapi mereka masih mempunyai moral yang mulia dan menjunjung tinggi moralitas bangsa yang beradab. Ya Allah sungguh menderita sekali ibu pertiwi yang kami cintai ini, selalu diterpa derita yang tak habis-habisnya dan selalu merintih dalam kedukaannya, walaupun demikian beratnya derita yang dipikul ibu pertiwiku senantiasa berdo’a pada Yang Maha Kuasa untuk kemaslahatan bangsa dan negaranya, semoga segala kecarut-marutan bangsa dapat tertata rapi dalam koridor tatanan negara yang adil dan makmur serta ber-disiplin tinggi dalam menjalankan tugasnya dan bertindak tegas dalam memutuskan satu keputusan yang adil dan jernih, yang mana baik dan yang mana buruk, yang mana kasus besar dan yang mana kasus kecil agar tidak ada lagi kesenjangan sosial dan kesenjangan ekonomi dalam tubuh ibu pertiwi yang kita cintai ini. Maha Suci bagi  Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wassalam


About RUDHIDAYAT

Menjalani sebuah kehidupan bagaikan kemudi dalam genggaman, kapan kita akan merubah arah dan kapan kita akan merubah haluan. Semuanya dikembalikan pada kita, kemana kita akan membawanya..........!

Posted on Januari 4, 2012, in Kajian, Kemanusiaan, Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan isi komentarnya, gratis koq !

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: